KONSUMSI TERNAK SAPI: FAKTOR UTAMA YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PEMELIHARAAN HEWAN TERNAK

KONSUMSI TERNAK SAPI: FAKTOR UTAMA YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PEMELIHARAAN HEWAN TERNAK

By, terik.id

15 Apr 2023


Kebutuhan pakan untuk hidup dan berproduksi  pada ternak sangat penting adanya. Konsumsi merupakan istilah yang sangat familiar dalam dunia peternakan. Berbeda dengan kecernaan, pengertian sederhana dari konsumsi merupakan jumlah semua pakan yang masuk dalam ternak atau jumlah pakan pemberian dikurangi sisa pakan “jika ada”. Sedangkan kecernaan, biasa digambarkan dalam kering merupakan konsumsi dikurangi fases. Jadi ini merupakan dua hal yang berbeda, konsumsi pakan adalah pakan yang masuk ke tubuh ternak sementara kecernaan pakan yang asumsinya diabsorb oleh ternak. 


Meskipun berbeda pengertian, konsumsi dan kecernaan memiliki hubungan dalam produksi ternak, misal dalam kaitannya dengan ADG atau Averege Daily Gain  (Pertambahan Bobot Harian). Semakin tinggi kecernaan pakan maka potensi angka ADG akan tinggi, semakin tinggi konsumsi maka semakin tinggi angka ADG. Sehingga memilih pakan dengan asumsi kecernaan dan konsumsi tinggi merupakan factor utama usaha peternakan. Dalam usaha penggemukan ruminansia sapi misalnya, konsumsi merupakan laporan wajib harian yang harus diamati dan dievaluasi mendetail. Pada sapi import, kurva yang diharapkan dari hari ke 7 sampai ke hari 30 konsumsi pakan naik drastis sampai pada hari ke 60 sudah menjadi kewajaran jika relative melandai dan berangsur-angsur menurun mulai di hari 90-120. Berbeda dengan sapi lokal, pergantian pakan penggemukan relative lebih lama adaptasinya sehingga perubahan ration antara konsentrat dan hijauan dilakukan selambat mungkin agar tidak mengganggu kesehatan ternak maka berdampak konsumsi rata-rata per haripun akan pelan meningkat. Pada umumnya dari hari 2 sampai ke 7 merupakan tahap pembelajaran pakan, sampai pada hari ke 14 konsumsi mulai naik pelan dan baru bisa stabil di hari ke 14 tersebut pada ternak dengan adaptasi yang baik, hingga hari ke 30 . 

Laporan konsumsi pakan juga terkadang menjadi acuhan untuk menentukan dan memutuskan rencana kelanjutan pemeliharaan ternak. Adi COO PT. Terik mengatakan bahwa, “dari konsumsi ini bisanya sudah dapat menemui gambaran potensi dari ternak terhadap potensi produksinya di 30 hari awal pemeliharaan”. Sehingga  konsumsi ternak ini menjadi hal yang penting dalam usaha peternakan.

Hal yang mendasar dari konsumsi pakan adalah aktivitas grazing atau mengkonsumsi pakan sedangkan pengaruh utama dari aktivitas tersebut adalah rangsangan, umpan balik dari sistm syaraf pusat (hipotalamus anterior). Faktor yang berperngaruh teradap system syaraf pusat tersebut secara umum adalah metabolik ternak itu sendiri, kapasitas Rumen Retikulum, dimana ternak akan berhenti mengkonsumsi pakan jika dirasa rumen retikulumnya sudah penuh, dan fisiologis (palatabilitas pakan dan kondisi lingkungan). 

Ternak ruminansia cenderung lebih suka dengan pakan berbau daun segar, rasa manis atau asin. Namun pada dasarnya palatabilitas ternak ruminansia berhubungan dengan keterbiasaan apa yang dia konsumsi. Pada kasus penggemukan kebanyakan peternak mengeluhkan konsumsi konsentrat yang sangat rendah bahkan terkesan tidak mau makan. Atau perubahan hijauan silase yang ternak sama sekali tidak menyentuh. Ini hanya soalan waktu dan keterbiasaan, pelatihan sedikit demi sedikit untuk membiasakan perlu waktu dan kesabaran. Disisi lain peternak dikejar waktu terhadap ADG. Karena semakin lama adaptasinya maka semakin tinggi pengurang dari rataan pertambahan bobot per hari. Sehingga perlunya perencanaan jangka panjang model management sejak awal agar tidak ada perubahan yang signifikan terhadap jenis atau karakter bahan pakan yang akan diberikan.

Kondisi lingkungan ternak berkaitan erat dengan perencanaan awal penentuan tempat pembangunan kandang, bagaimana suhu rata-rata dan kualitas udaranya. Karena sapi lokal cenderung lebih mudah adaptasinya terhadap suhu rendah daripada tempat bersuhu tinggi, kaitannya dengan cekaman panas. Beberapa literature mengatakan pada suhu yang sangat rendah ternak akan stress dan banyak energy untuk meningkatkan suhu tubuhnya, jika pakan berkualitas dan berkuantitas terandah makan jaringan otot dan lemak akan dibongkar sehingga berat badan akan turun. Begitu juga jika suhu terlalu panas maka ternak akan mudah stress, konsumsi rendah dan membutuhkan energy tinggi untuk melepaskan panas dengan meningkatkan respirasinya, sehingga aka ada penurunan bobot berat badan. Suhu yang optimal sekitar 21-250C.

Faktor lain konsumsi pakan adalah kapasitas rumen dan reticulum. Jika kapasitas Rumen dan retikum semakin penuh maka konsumsi ternak juga akan relatih menurun. Kapasitas ini berkaitan erat dengan laju kecapatan pakan meninggalkan rumen dan reticulum. Sedangkan laju kecepatan ini dipengaruhi oleh  ukuran pakan, ukuran pakan yang besar maka lajunya akan lambat, kemudian degradasi pakan, semakin lambat degradasi pakan maka semakin lama pakan berada di R-R, Misal ternak dengan pakan jerami padi maka relative mempunyai kebutuhan jumlah pakan yang sedikit dan konsumsi rendah karena bahan kering  jerami yang  tinggi dan kandungan lignin atau serat kasar tinggi sehingga membutuhkan waktu degradasi yang lama. 



Category: Education

Berbagi dengan orang lain

Postingan Lainnya

Artikel yang baru diterbitkan!